OPtikus PSPD 2010

OPtikus PSPD 2010
seru abiessss

Jumat, 04 Januari 2013

haiii blogger maniaa!! lama tak bersua hehe..^_^,, banyak banget yg pengen aku bagikan..ada banyak kisah hidup yg selama 2 tahun belakangan ini saya jalani..banyak orang yang gak tahu, saya rasa disinilah tempat yg aman dari semua medsos buat curhatt hehe(^__*).pada saat tahun lalu begitu banyak hal yg kadang buat aku galauu,,alayy,,,happyy..semua secara silih berganti datanggg..skrg dimulai dari galau dulu yaahh??...hmmm Galau?? pertama kali saya denger kata galau(wow kata yg sangat complicated mnurut saya) hehe tapi yg saya alami bener2 rumitt...mulai dari perkuliahan yang sangaat padat dengan tugas yg bejibunnn sampai2 kadang lupa makann,,,tidur gak pernah enakk,kepala yg semakin panas pada saat menghafall sekian banyak pelajaran dalam satu tubuh manusia yg kelihatanx wahh hanya 1 orang tapi rumitx minta ampunn beudhhh..hafalinx itu bagaikan menghafal mantra kek dalam novel harry potter...begitulahh yg terjadi(ini salah satu menjadi kegalauanku sebagai mahasiswa rempong) tetapi kadang dalam kelemahanku disitu terjadi pemulihan kekuatan yg saya rasakan sendiri,,mungkin krn doaaa juga hehe(because of Jesus defenitely)...kemudian selain sebagai mahasiswa galau itu datang memang dalam berbagai bentuk (hmm sebenarx saya malas umbar disini tapi hati kecil bilang iaa loee cerita aja disini,,hehe saya masih nurutin kata hati nurani...one day saya kenal dengan seseorang but cuman sebentar ajahh seperti sekejap mata saja perkenalan singkat itu,,awalx bahagia,,,banyak harapan,,,perbedaan jelas ada,, namun semua itu berakhirrr ricuhhh... saya jelasin kalo saya blum cukup dewasa,, jadi wajar kalo kita kadang beda pendapat,,saya gak tahu apakah dia ngeliat kondisiku yg seperti ini atau apa,,namun dia udah jenuhh bgt,,,sakit datang pada saat ditlp, disms, gak dihiraukannn ,,berkali minta maaf gak diterima,,bener2 gak dianggap...sakit skalii rasanya..... saya baru tahu kalau hubungan seperti itu gak bakalan bertahan lama,,,, cepet basii :(,,............(to be continiuee)

Rabu, 02 Januari 2013


proposal blok 13


“HUBUNGAN ANTARA PERDARAHAN AKIBAT RUPTUR UTERI DENGAN KEMATIAN IBU POSTPARTUM DI RSUD UNDATA PALU TAHUN 2010-2012”



DISUSUN OLEH :
WILLIAM BUNGA DATU
G 501 10 063



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
            Obstetri adalah “ bidang yang berdarah-darah” (bloody bussiness).Meski angka kematian ibu hamil telah berkurang secara drastis dengan tindakan rawat inap bagi ibu yang melahirkan dan tersedianya darah untuk transfusi, kematian akibat perdarahan masih menonjol pada sebagian besar laporan kematian dinegara-negara maju.di Amerika Serikat sejak tahun 1979 sampai 1992, centers of disease control and prevention menganalisis 4915 kematian ibu hamil yang tidak terkait abortus dari pregnancy mortality surveilence system (Chichalki dkk, 1999).Mereka mendapatkan bahwa perdarahan merupakan kausa langsung pada sekitar 30 % kasus kematian tersebut.Menurut Bonnar (2000), perdarahan adalah faktor utama pada kematian ibu hamil di Inggris antara tahun 1985 dan 1996.Tidak diragukan lagi bahwa telah terjadi kemajuan besar dalam kematian akibat perdarahan  dengan modernisasi bidang obstetri di Amerika Serikat.Sebagai contoh, Sachs dkk. (1987) melaporkan bahwa kematian akibat perdarahan obstetris di Massachusetts menurun sepuluh kali lipat dari pertengahan tahun 1980-an.
            Sayangnya, walaupun hasil membaik, wanita dari golongan miskin dan minoritas terus meninggal akibat perdarahan dan penyulitnya dengan angka tinggi.Dalam laporan dari Centers for Disease Control and Prevention yan disebut diatas, terjadi peningkatan angka kematian akibat perdarahan sebesar tiga kali lipat pada wanita Amerika-Afrika dibandingkan dengan kaukasia.Dalam sebuah analisis serupa terhadap 3777 kematian akibat-kehamilan dari negara-negara bagian yang mencakup populasi Hispanik dalam sertifikat kematiannya, Hopkins dkk.(1999) melaporkan bahwa perdarahan merupakan penyebab kematian ibu pada 20 persen kasus.Mereka memperlihatkan adanya perbedaan angka kematian pada wanita Amerika-Afrika dan Hispanik dibandingkan wanita kaukasian.
            Perdarahan obstetri dapat terjadi setiap saat, baik selama kehamilan, persalinan, maupun masa nifas. Oleh karena itu setiap perdarahan yang terjadi dalam masa kehamilan, persalinan maupun nifas harus dianggap sebagai suatu keadaan akut dan serius, karena dapat membahayakan ibu dan janin (Khoman, 1992).
Perdarahan post partum merupakan penyebab kehilangan darah serius yang paling sering dijumpai di bagian obstetrik. Sebagai faktor penyebab langsung kematian ibu perdarahan post partum merupakan penyebab sering terdapat dari keseluruhan kematian akibat perdarahan obstetrik yang disebabkan dari perdarahan post partum, plasenta previa, solusio plasenta, kehamilan ektopik terganggu, perdarahan akibat abortus dan ruptura (Cunningham, hal 19).
Banyak faktor yang mempunyai arti penting baik sendiri maupun secara gabungan di dalam menimbulkan perdarahan post partum dini. Paritas tinggi merupakan salah satu faktor predisposisi untuk tingginya perdarahan post partum dini (Cunningham, hal 19), dimana wanita dengan paritas tinggi menghadapi resiko perdarahan akibat atonia uteri yang semakin meningkat (Cunningham, hal 19).
           
Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk membuat penelitian dengan judul “HUBUNGAN ANTARA PERDARAHAN AKIBAT RUPTUR UTERI DENGAN TINGKAT MORTALITAS IBU INPARTU DI RSUD UNDATA PALU TAHUN 2012”.
B.Rumusan Masalah
            Berdasarkan ulasan diatas, dapat ditarik rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : Apakah ada hubungan antara perdarahan akibat Ruptur Uteri dengan tingkat mortalitas ibu inpartu di  RSUD Undata Palu tahun 2010- 2012 ?.
C.Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan tingkat mortalitas pada ibu inpartu.
2. Tujuan Khusus
a. Mendiskripsikan perdarahan akibat ruptur uteri
b. Mendiskripsikan umur ibu.
c. Mendiskripsikan paritas ibu.
d. Menganalisis hubungan umur dan paritas dengan perdarahan akibat ruptur uteri.


D.Manfaat Penelitian

1. Bagi Pembuat Kebijakan
Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi pembuat kebijakan agar tidak terjadi kematian terutama pada kasus perdarahan akibat ruptur uteri.

2. Bagi Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini dapat digunakan sebagai literatur ilmiah kedokteran Obstetri.

3. Bagi Peneliti
Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman penulis tentang hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan tingkat mortalitas pada ibu inpartu.






















 

 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Telaah Pustaka

1.Perdarahan Post Partum
       Perdarahan setelah melahirkan adalah konsekuensi perdarahan berlebihan dari tempat implantasi plasenta, trauma di traktus genitalia dan struktur di sekitarnya, atau keduanya.Dengan demikian , perdarahan postpartum merupakan penjelasan suatu kejadian, dan bukan diagnosis.Di Inggris, separuh kematian ibu hamil akibat perdarahan disebabkan oleh proses postpartum (Bonnar, 2000).Apabila terjadi perdarahan berlebihan, harus dicari etiologi yang spesifik.Atonia uteri ,retensi plasenta-termasuk plasenta akreta dan variannya, serta laserasi traktus genitalia merupakan penyebab sebagian besar kasus perdarahan postpartum.Dalam 20 tahun terakhir, plasenta akreta telah mengalahkan atonia uteri sebagai penyebab tersering perdarahan postpartum yang keparahannya mengharuskan , dilakukannya histerektomi (Chestnut dkk., 1985 ; Clark dkk., 1984 ; Zelop dkk, 1993).
       Secara tradisional, perdarahan postpartum didefenisikan sebagai hilangnya 500 ml atau lebih darah setelah kala tiga persalinan selesai.Bagaimanapun, hampir separuh wanita yang melahirkan pervaginam mengeluarkan darah dalam jumlah tersebut atau lebih, apabila diukur secara kuantitatif.Hal ini setara dengan pengeluaran darah 1000 ml pada seksio sesarea, 1400 ml pada histerektomi sesarea elektif, dan 3000 sampai 3500 ml untuk histerektomi sesarea darurat (Chestnut dkk., 1985 ; Clark dkk., 1984).Wanita yang secara normal mengalami hipervolemia selama hamil biasanya akan mengalami peningkatan volume darah sebesar 30-60 persen , yang untuk wanita berukuran tubuh rata-rata setara dengan 1-2 liter (Pritchard, 1965).Karenanya, ia dapat mentoleransi tanpa mengalami penurunan bermakna hematokrit postpartum perdarahan saat pelahiran yang volumenya mendekati jumlah pertambahan darah selama hamil.Pada satu penelitian rerata hematokrit postpartum menurun sebesar 2,6-4,3 persen volume ;sepertiga wanita tidak memperlihatkan penurunan atau malah mengalami peningkatan (Combs dkk., 1991b).Wanita yang menjalani seksio sesarea mengalami penurunan rerata hematokrit 4,2 persen Volume, tetapi 20 persen tidak memperlihatkan penurunan (Combs dkk., 1991a).
       Karena itu perdarahan selama persalinan pervaginam yang sedikit banyak melebihi 500 ml berdasarkan pengukuran yang akurat tidak selalu berarti penyimpangan.Pritchard dkk. (1962) mendapatkan bahwa sekitar 5 persen wanita yang melahirkan pervaginam kehilangan lebih lebih dari 1000 ml darah.Mereka juga mengamati bahwa jumlah darah yang diperkirakan  darah yang keluar 500 ml, perdarahan postpartum terjadi pada sekitar 5 persen pelahiran.Karena itu , dibanyak institusi perkiraan perdarahan yang lebih dari 500 ml seyogyanya menyebabkan ibu yang mengalami perdarahan berlebihan perlu diperhatikan dan mengingatkan dokter bahwa mungkin terdapat ancaman perdarahan yang berbahaya.Perdarahan setelah 24 jam pertama disebut perdarahan postpartum lanjut.

2.Ruptur Uteri
A. Definisi
Ruptur uteri merupakan peristiwa robeknya uterus. Kejadian ini merupakan hal yang
sangat berbahaya, yang umumnya terjadi pada persalinan, dan kadang juga terjadi pada kehamilan tua.
B. Etiologi
Ruptur uteri dapat terjadi sebagai akibat cedera atau anomali yang sudah ada sebelumnya, atau dapat menjadi komplikasi dalam persalinan dengan uterus yang sebelumnya tanpa parut. Akhir-akhir ini, penyebab ruptur uteri yang paling sering adalah terpisahnya jaringan parut akibat seksio sesarea sebelumnya dan peristiwa ini kemungkinan semakin sering terjadi bersamaan dengan timbulnya kecenderungan untuk memperbolehkan partus percobaan pada persalinan dengan riwayat seksio sesarea. Faktor predisposisi ruptur uteri lain yang sering dijumpai adalah riwayat manipulasi atau operasi traumatik, misalnya kuretase, perforasi, dan miomektomi. Stimulasi uterus yang berlebihan atau tidak tepat dengan oksitosin juga dapat menjadi penyebabnya, meskipun hal ini sekarang sudah sangat jarang terjadi.Umumnya, uterus yang sebelumnya tidak pernah mengalami trauma dan persalinan berlangsung spontan, tidak akan terus berkontraksi dengan kuat sehingga merusak dirinya sendiri.
C.Epidemiologi
            Insiden ruptur uteri mungkin cukup bervariasi diantar insititusi.Menurut Centers for disease control and prevention (2000), untuk tujuan surveilans pemakaian data pemulangan dari rumah sakit tidak akurat.Walaupun frekuensi ruptur uteri dari semua kausa mungkin tidak banyak menurun selama beberapa dekade terakhir, etiologi ruptur telah cukup banyak berubah dan hasil akhirnya sudah jauh lebih baik.Akan tetapi, masih dilaporkan adanya kematian ibu (Ripley, 1999).Bahkan , 20 persen kematian ibu karena perdarahan disebabkan oleh ruptur uteri (Nagaya dkk., 2000).
            Eden dkk. (1986) mengulas pengalaman mereka delengan ruptur uteri selama periode 53 tahun di Duke University.Dari Tahun  1931 sampai 1950 insidennya adalah 1 dari1280 pelahiran dibandingkan dengan 1 dari 2250 dari tahun 1973 sampai 1983.Rachagan dkk. (1991) melaporkan insiden serupa sekitar 1 dari 3000 selama periode 21 tahun.Miller dan Paul (1996) melaporkan insiden sekitar 1 dari 1235 pada hampir 190.000 pelahiran di Los Angeles county-university of Southern California women’s hospital.Lebih dari 90 persen kasus berkaitan dengan riwayat seksio sesarea.Menurut pengalaman kami , ruptur uteri sejati, seperti yang akan didefinisikan, telah menjadi sangat jarang.Selama periode 5 tahun dari tahun 1990 sampai 1994, ketika hampir 74.000 wanita melahirkan di Parkland Hospital, hanya terdapat empat kasus ruptur uteri dengan insiden sebesar 1 dari 18.500 pelahiran.Angka yang rendah ini berkaitan dengan kebijakan kami untuk tidak melakukan induksi atau augmentasi persalinan dengan oksitosin  pada wanita dengan riwayat seksio sesarea.
            Ruptur uteri dapat terjadi akibat cedera atau anomali yang sudah ada, sebelumnya, atau anomali yang sudah ada sebelumnya, atau dapat berkaitan dengan trauma, atau menjadi penyulit persalinan pada uterus yang sebelumnya tidak memiliki parut.
            Kausa tersering ruptur uteri adalah terpisahnya jaringan parut bekas seksio sesarea sebelumnya.Keadaan ini meningkat karena timbulnya kecenderungan untuk melakukan partus percobaan pada kehamilan dengan riwayat seksio sesarea, dua pertiganya menjalani partus percobaan dengan insiden ruptur uteri yang termanifestasi sebesar 0,8 persen.Dalam studi yang disebut di atas oleh Miller dan Paul (1996), hanya 11 di antara 153 kasus ruptur uteri tidak berkaitan dengan riwayat seksio sesarea memperlihatkan risiko ruptur 3,8 persen (Chapman dkk.,1996).
            Uterus yang ruptur dapat langsung terhubung dengan rongga peritoneum (komplet) atau mungkin dipisahkan darinya oleh peritoneum viseralis yang menutupi uterus atau oleh ligamentum latum (inkomplet).
            Kita perlu membedakan antara ruptur dan terlepasnya (dehiscence) jaringan parut seksio sesarea.Ruptur mengacu kepada pemisahan insisi uterus lama diseluruh panjangnya disertai ruptur selaput ketuban sehingga rongga uterus dan rongga peritoneum dapat berhubungan.Dalam keadaan tersebut , seluruh atau sebagian janin biasanya terjadi menonjol ke dalam rongga peritoneum.Selain itu, dari tepi jaringan parut atau perluasan ke bagian uterus yang sebelumnya normal, terjadi perdarahan bermakna.sebaliknya, pada dehiscence, selaput ketuban tidak mengalami ruptur dan janin tidak menonjol ke dalam rongga peritoneum.Biasanya, terlepasnya uterus tidak mengenai seluruh jaringan parut uterus,  peritoneum diatasnya utuh, dan perdarahan tidak ada atau minimal.
       Risiko pada ibu berkaitan dengan apakah terjadi ruptur pada uterus utuh atau jaringan parut seksio sesarea.Terpisahnya jaringan parut setelah partus percobaan pada seorang wanita dengan riwayat insisi transversal belum pernah menimbulkan kematian ibu (Flamm dkk.,1988 ; Rachagan dkk., 1991).Sebaliknya, pada 24 kasus ruptur uteri yang pada dasarnya tidak berkaitan dengan riwayat insisi,Eden dkk.(1986) melaporkan satu kematian ibu dan 46 persen  kematian perinatal.Demikian juga, Rachagan dkk.(1991) melaporkan angka kematian bayi hampir 70 persen pada ruptur uteri spontan atau traumatik, morbiditas dan mortalitas perinatal dapat cukup besar pada ruptur selama persalinan dengan riwayat insisi uterus

D. Klasifikasi
Menurut terjadinya, ruptur uteri dibedakan menjadi 2, yaitu ruptur uteri tanpa jaringan parut, dan ruptur uteri dengan jaringan parut.
1) Ruptur Uteri Tanpa Jaringan Parut
Ruptur uteri tanpa jaringan parut dibagi menjadi 2, yaitu rupture uteri spontan,
dan ruptur uteri traumatik.
-           Ruptur Uteri Spontan
Ruptur uteri spontan ialah ruptur uteri yang terjadi pada uterus yang utuh
(tanpa jaringan parut). Faktor utama yang menjadi penyebab hal ini ialah
persalinan yang tidak maju karena adanya hambatan, misalnya panggul sempit
(CPD), hidrosefalus, janin letak lintang, dan sebagainya. Hal-hal tersebut dapat
menyebabkan segmen bawah uterus makin lama makin teregang. Ruptur uteri
terjadi saat regangan terus bertambah melampaui kekuatan jaringan miometrium.
Faktor predisposisi terjadinya rupture uteri spontan salah satunya ialah
multiparitas. Pada multipara, pada miometriumnya sudah banyak terdapat
jaringan ikat yang menyebabkan kekuatan dinding uterus menjadi kurang,
sehingga regangan yang sedikit lebih mudah menimbulkan robekan. Pemberian
oksitosin dalam dosis yang terlampau tinggi, atau atas indikasi yang tidak tepat,
juga dapat menyebabkan ruptur uteri spontan .
-          Ruptur Uteri Traumatik
Ruptur uteri traumatik merupakan ruptur uteri yang disebabkan oleh trauma.
Hal ini dapat terjadi karena pasien jatuh, kecelakaan lalu lintas seperti tabrakan, dan lain sebagainya. Ruptur uteri traumatik dapat terjadi setiap saat dalam kehamilan, namun pada dasarnya ruptur uteri traumatik jarang terjadi karena otot uterus cukup kuat untuk menahan trauma yang berasal dari luar. Walaupun uterus ternyata sangat tahan terhadap trauma tumpul, wanita hamil yang mengalami trauma tumpul pada abdomen harus mewaspadai timbulnya tanda-tanda ruptur uteri. Miller dan Paul (1996) hanya melaporkan tiga kasus yang disebabkan oleh trauma pada lebih dari 150 wanita dengan ruptur uteri. Trauma tumpul lebih besar kemungkinannya menyebabkan solusio plasenta. Sebaliknya, luka tembus abdomen cenderung mengenai uterus yang sedang hamil besar. Dahulu, ruptur traumatik sewaktu persalinan sering disebabkan oleh ekstraksi atau versi poladik interna. Kausa lain ruptur uteri traumatik adalah persalian dengan forceps yang sulit, ekstraksi bokong, dan pembesaran janin yang tidak lazim, misalnya pada hidrosefalus .Yang lebih sering terjadi ialah ruptur uteri violenta. Ruptur uteri violenta biasanya disebabkan oleh karena distosia, karena adanya regangan segmen bawah uterus dan usaha vagina untuk melahirkan janin,sehingga terjadi ruptur uteri. Ruptur uteri violenta ini biasanya terjadi pada versi ekstraksi letak lintang yang dilakukan bertentangan dengan syarat-syarat dilakukannya, tindakan tersebut, kemudian bisa juga terjadi pada proses embriotomi dan ekstraksi dengan cunam yang sukar .
2) Ruptur Uteri dengan Jaringan Parut
Ruptur uteri tipe ini lebih sering terjadi pada bekas parut seksio sesarea. Peristiwa
ini jarang timbul pada uterus yang telah dioperasi untuk mengangkat mioma
(miomektomi), dan lebih jarang lagi pada uterus dengan parut karena kerokan yang
terlampau dalam pada dinding uterus, seperti pada kuretase. Diantara jenis parut
bekas seksio sesarea, parut yang terbentuk post seksio sesarea tipe klasik lebih sering
menyebabkan ruptur uteri dibandingkan bekas parut seksio sesarea tipe profunda.
Perbandingan insidensinya ialah 4:1. Hal ini disebabkankan oleh karena luka pada
segmen bawah uterus menyerupai daerah uterus yang lebih tenang, dan dalam masa
nifas dapat sembuh dengan baik, sehingga jaringan parut yang terbentuk setelah masa
penyembuhan menjadi lebih kuat dibandingkan dengan jaringan parut yang terbentuk
pada post seksio sesarea tipe klasik. Ruptur uteri pada parut post seksio sesarea klasik
juga lebih sering terjadi pada kehamilan tua, sebelum persalinan dimulai. Sedangkan
pada parut post seksio sesarea profunda umumnya terjadi saat persalinan.
Menurut lokasinya, ruptur uteri dapat dibedakan menjadi :
·         Korpus Uteri
Biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi, seperti seksio
sesarea klasik (korporal) atau miomektomi.
·         Segmen Bawah Rahim
Biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama (tidak maju). SBR tambah lama
tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadilah ruptur uteri.
·         Serviks Uteri
Biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsep atau versi dan ekstraksi,
sedang pembukaan belum lengkap.
·         Kolpoporeksis-Kolporeksis
Robekan – robekan di antara serviks dan vagina. Menurut waktu terjadinya, etiologi ruptur uteri dapat dibagi menjadi 2, yaitu akibat
cedera atau anomali yang terjadi sebelum kehamilan sekarang, dan akibat cedera atau
anomali yang terjadi selama kehamilan sekarang.
Menurut robeknya peritoneum, ruptur uteri dapat dibedakan :
*      Ruptur Uteri Kompleta
Robekan pada dinding uterus berikut peritoneumnya (perimetrium), sehingga
terdapat hubungan langsung antara rongga perut dan rongga uterus dengan bahaya
peritonitis.
*      Ruptur Uteri Inkompleta
Robekan otot rahim tetapi peritoneum tidak ikut robek. Perdarahan terjadi subperitoneal dan bisa meluas sampai ke ligamentum latum.
Menurut gejala klinis, ruptur uteri dapat dibedakan:
*      Ruptur uteri iminens (membakat/mengancam)
Terlebih dahulu dan yang terpenting adalah mengenal betul gejala dari ruptur
uteri mengancam (threatened uterine rupture) sebab dalam hal ini kita dapat bertindak secepatnya supaya tidak terjadi ruptur uteri yang sebenarnya.
Gejala ruptur uteri iminens/mengancam :
*      Dalam anamnesa dikatakan telah ditolong/didorong oleh dukun/bidan,
partus sudah lama berlangsung
*      Pasien tampak gelisah, ketakutan, disertai dengan perasaan nyeri diperut
*      Pada setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan mengerang kesakitan bahkan meminta supaya anaknya secepatnya dikeluarkan.
*      Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasa.
*      Ada tanda dehidrasi karena partus yang lama (prolonged labor), yaitu mulut kering, lidah kering dan haus, badan panas (demam).
*      His lebih lama, lebih kuat dan lebih sering bahkan terus-menerus.
*      Ligamentum rotundum teraba seperti kawat listrik yang tegang, tebal dan keras terutama sebelah kiri atau keduanya.
*      Pada waktu datang his, korpus uteri teraba keras (hipertonik) sedangkan SBR teraba tipis dan nyeri kalau ditekan.
*      Diantara korpus dan SBR nampak lingkaran Bandl sebagai lekukan melintang yang bertambah lama bertambah tinggi, menunjukan SBR yang semakin tipis dan teregang. Sering lengkaran bandl ini dikelirukan dengan kandung kemih yang penuh, untuk itu dilakukan kateterisasi kandung kemih. Dapat peregangan dan tipisnya SBR terjadi di dinding belakang sehingga tidak dapat kita periksa, misalnya terjadi pada asinklitismus posterior atau letak tulang ubun-ubun belakang.
*      Perasaan sering mau kencing karena kandung kemih juga tertarik dan teregang ke atas, terjadi robekan-robekan kecil pada kandung kemih, maka pada kateterisasi ada hematuri.
*      Pada auskultasi terdengar denyut jantung janin tidak teratur (asfiksia)
*      Pada pemriksaan dalam dapat kita jumpai tanda-tanda dari obstruksi, seperti oedem porsio, vagina, vulva dan kaput kepala janin yang besar.

-           Ruptur uteri sebenarnya
Bila ruptur uteri yang mengancam dibiarkan terus, maka suatu saat akan terjadilah
ruptur uteri sebenarnya.

E. Patomekanisme
Pada umumnya uterus dibagi atas dua bagian besar: Korpus uteri dan servik uteri. Batas keduanya disebut ismus uteri (2-3 cm) pada rahim yang tidak hamil. Bila kehamilan sudah kira-kira ± 20 minggu, dimana ukuran janin sudah lebih besar dari ukuran kavum uteri, maka mulailah terbentuk SBR ismus ini. Batas antara korpus yang kontraktil dan SBR yang pasif disebut lingkaran dari Bandl. Lingkaran Bandl ini dianggap fisiologik bila terdapat pada 2-3 jari diatas simfisis, bila meninggi maka kita harus waspada terhadap kemungkinan adanya ruptur uteri mengancam. Ruptur uteri terutama disebabkan oleh peregangan yang luar biasa dari uterus. Sedangkan kalau uterus telah cacat, mudah dimengerti karena adanya lokus minoris resistens
Rumus mekanisme terjadinya ruptur uteri:
R = H + O
Dimana: R = Ruptur, H = His Kuat (tenaga), O = Obstruksi (halangan) Pada waktu in-partu, korpus uteri mengadakan kontraksi sedang SBR tetap pasif dan cervix menjadi lunak (effacement dan pembukaan). Bila oleh sesuatu sebab partus tidak dapat maju (obstruksi), sedang korpus uteri berkontraksi terus dengan hebatnya (his kuat), maka SBR yang pasif ini akan tertarik ke atas menjadi bertambah regang dan tipis. Lingkaran Bandl ikut meninggi, sehingga suatu waktu terjadilah robekan pada SBR tadi. Dalam hal terjadinya ruptur uteri jangan dilupakan peranan dari anchoring apparatus untuk memfiksir uterus yaitu ligamentum rotunda, ligamentum latum, ligamentum sacrouterina dan jaringan parametra.

F.Diagnosis

1.) Anamnesis dan Inspeksi

*      Pada suatu his yang kuat sekali, pasien merasa kesakitan yang luar biasa, menjerit seolah-olah perutnya sedang dirobek kemudian jadi gelisah, takut, pucat, keluar keringat dingin sampai kolaps.
*      Pernafasan jadi dangkal dan cepat, kelihatan haus.
*      Muntah-muntah karena perangsangan peritoneum.
*      Syok, nadi kecil dan cepat, tekanan darah turun bahkan tidak terukur.
*      Keluar perdarahan pervaginam yang biasanya tak begitu banyak, lebih-lebih kalau bagian terdepan atau kepala sudah jauh turun dan menyumbat jalan lahir.
*      Kadang-kadang ada perasaan nyeri yang menjalar ke tungkai bawah dan dibahu.
*      Kontraksi uterus biasanya hilang.
*      Mula-mula terdapat defans muskulaer kemudian perut menjadi kembung dan meteoristis (paralisis usus)
2.) Palpasi
*      Teraba krepitasi pada kulit perut yang menandakan adanya emfisema
subkutan.
*      Bila kepala janin belum turun, akan mudah dilepaskan dari pintu atas panggul.
*      Bila janin sudah keluar dari kavum uteri, jadi berada di rongga perut, maka teraba bagian-bagian janin langsung dibawah kulit perut dan disampingnya kadang-kadang teraba uterus sebagai suatu bola keras sebesar kelapa.
*      Nyeri tekan pada perut, terutama pada tempat yang robek.
3.) Auskultasi
Biasanya denyut jantung janin sulit atau tidak terdengar lagi beberapa menit setelah ruptur, apalagi kalau plasenta juga ikut terlepas dan masuk ke rongga perut.
4.) Pemeriksaan Dalam
*      Kepala janin yang tadinya sudah jauh turun ke bawah, dengan mudah dapat didorong ke atas dan ini disertai keluarnya darah pervaginam yang agak banyak
*      Kalau rongga rahim sudah kosong dapat diraba robekan pada dinding rahim dan kalau jari atau tangan kita dapat melalui robekan tadi, maka dapat diraba usus, omentum dan bagian-bagian janin. Kalau jari tangan kita yang didalam kita temukan dengan jari luar maka terasa seperti dipisahkan oleh bagian yang tipis seklai dari dinding perut juga dapat diraba fundus uteri.
5.) Kateterisasi
Hematuri yang hebat menandakan adanya robekan pada kandung kemih.


G. Penatalaksanaan
Untuk mencegah timbulnya ruptura uteri pimpinan persalinan harus dilakukan dengan
cermat, khususnya pada persalinan dengan kemungkinan distosia, dan pada wanita yang pernah mengalami sectio sesarea atau pembedahan lain pada uterus. Pada distosia harus
diamati terjadinya regangan segmen bawah rahim, bila ditemui tanda-tanda seperti itu persalinan harus segera diselesaikan. Keselamatan wanita yang mengalami ruptur uteri paling sering bergantung pada kecepatan dan efisiensi dalam mengoreksi hipovolemia dan mengendalikan perdarahan. Perlu ditekankan bahwa syok hipovolemik mungkin tidak bisa dipulihkan kembali dengan cepat sebelum perdarahan arteri dapat dikendalikan, karena itu keterlambatan dalam memulai pembedahan tidak akan bisa diterima. Bila keadaan umum penderita mulai membaik, selanjutnya dilakukan laparotomi dengan tindakan jenis operasi:
· Histerektomi, baik total maupun subtotal.
· Histerorafia, yaitu tepi luka dieksidir lalu dijahit sebaik-baiknya.
· Konservatif, hanya dengan tamponade dan pemberian antibiotik yang cukup.
Tindakan aman yang akan dipilih, tergantung dari beberapa faktor, antara lain:
· Keadaan umum
· Jenis ruptur, inkompleta atau kompleta
· Jenis luka robekan
· Tempat luka
· Perdarahan dari luka
· Umur dan jumlah anak hidup
· Kemampuan dan keterampilan penolong

H. Prognosis
Harapan hidup bagi janin sangat suram. Angka mortalitas yang ditemukan dalam
berbagai penelitian berkisar dari 50 hingga 70 persen. Tetapi jika janin masih hidup pada
saat terjadinya peristiwa tersebut, satu-satunya harapan untuk mempertahankan jiwa janin
adalah dengan persalinan segera, yang paling sering dilakukan lewat laparotomi. Jika tidak diambil tindakan, kebanyakan wanita akan meninggal karena perdarahan atau mungkin pula karena infeksi yang terjadi kemudian, kendati penyembuhan spontan pernah pula ditemukan pada kasus-kasus yang luar biasa. Diagnosis cepat, tindakan operasi segera, ketersediaan darah dalam jumlah yang besar dan terapi antibiotik sudah menghasilkan perbaikan prognosis yang sangat besar dan terapi antibiotik sudah menghasilkan perbaikan prognosis yang sangat besar bagi wanita dengan ruptura pada uterus yang hamil.

B.Kerangka teori


-          Cedera
-          anomali
 
Ruptur uteri
 
           




-          Atonia uteri
-          Plasenta akreta, dll
 
Perdarahan postpartum
 
Mortalitas
 
 






Keterangan :
                                               Variabel yang diteliti
                       
                                               Variabel yang tidak diteliti


C.Kerangka Konsep.
Perdarahan akibat ruptur uteri
 
mortalitas
 
 

                                              
 


                                Variabel bebas                                      variabel terikat
D.Hipotesis
Ada hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan tingkat mortalitas ibu postpartum di R.S Undata Palu Tahun 2012.









BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Rancangan Penelitian
       Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional studi case control.
3.2.Lokasi dan Waktu Penelitian
       a. Lokasi
                 Lokasi penelitian dilakukan di ruangan bersalin RSU Undata Palu.
       b. Waktu
                 Waktu penelitian berlangsung dari periode tahun 2010 sampai 2012.
3.3. Populasidan Sampel
       a. Populasi
     Populasi penelitian adalah pasien postpartum yang melahirkan di RSU Undata Palu periode tahun 2010-2012.
       b. Sampel
            Kriteria Eligilibitas
            Kriteria Inklusi
o   Wanita berusia 20-40 tahun atau lebih pada saat tanggal taksiran melahirkan
o   Ibu Postpartum
o   Wanita yang melakukan persalinan di RSU Undata Palu
            Kriteria Eksklusi
o   Pasien mempunyai penyakit penyerta lain (komobiditas)
o   Data rekam medik tidak lengkap
3.4. Alat Pengukuran
     Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan data sekunder berupa rekam medik.
3.5. Variabel Penelitian
     Variabel yang dipakai adalah variabel bebas (variabel independent), variabel tergantung (variabel dependent), dan variabel perancu.
3.6. Definisi Operasional
       1.Ibu Postpartum
                 Ibu postpartum adalah seorang wanita yang mengalami masa sesudah melahirkan.
            Alat ukur    : Format chek list
            Cara ukur   : Melihat dan mencatat rekam medis di ruang bersalin RSU Undata Palu
            Skala ukur : Ordinal
            Hasil ukur   : Ibu postpartum usia muda, ibu postpartum usia produktif, ibu postpartum
                                 Usia tua.
       2.Perdarahan akibat ruptur uteri
     Perdarahan akibat Ruptur uteri merupakan peristiwa robeknya uterus sehingga mengakibatkan perdarahan. Kejadian ini merupakan hal yang sangat berbahaya, yang umumnya terjadi pada persalinan, dan kadang juga terjadi pada kehamilan tua
Alat ukur    : Format chek list
Cara ukur   : Melihat dan mencatat rekam medis di ruang bersalin RSU Undata Palu
Skala ukur  : Ordinal
Hasil ukur   : Ruptur uteri yang menimbulkan perdarahan
3.7. Teknik pengumpulan data
          Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah bentuk data sekunder, data sekunder diperoleh dari buku rekam medis di ruang bersalin RSU Undata Palu periode 2010-2012 yang ada hubungannya dengan masalah penelitian yang dilakukan.
3.8.Desain Analisis Data
       1.Pengolahan data
            a.Editing
     Memeriksa kelengkapan data, memperjelas serta melakukan pengolahan terhadap data yang dikumpulkan .
b.Coding
     Menyederhanakan data yang terkumpul dengan cara memberi kode atau simbol tertentu.
c.Tabulating
     Dari data mentah dilakukan penyesuaian data yang  merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisis.

       2.Analisis Data
       a.Univariat
            Analisis univariat ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan karakteristik pasien, dilakukan  dengan menyajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk mengetahui proporsi masing-masing variabel.Adapun skala dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut :
       Umur                 : Skala Ordinal
       Pekerjaan           : Skala numerik
       b.Bivariat
            Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel bebas (perdarahan akibat ruptur uteri) dan variabel terikat (kematian) dilakukan analisis fisherman.Analisis data dilakukan dengan menggunakan program statistic package for social science (SPSS) for MS windows versi 15.0.
Keterangan :
Kai Kuadrat
Frekuensi hasil observasi dari sampel penelitian
 Frekuensi yang diharapkan pada populasi penelitian
dengan α = 0,05.
Hasil perhitungan X2 hitung dibandingkan dengan X2 tabel. Apabila Nilai X2 hitung lebih besar dari  tabel, maka Ho ditolak. Apabila nilai X2 hitung lebih kecil dari  tabel, maka Ho diterima. Atau bila p value lebih kecil dari , H0 ditolak, bila p value lebih besar dari , H0 diterima.
 Untuk mengetahui keeratan suatu hubungan antara variabel dependen satu dengan variabel dependen yang lain terhadap variabel independen maka dipakai rumus Koefisien Kontingensi (Contingency Coefficient) yaitu :
Keterangan :
C     = Koefisien Kontingensi
  = Harga Chi-kuadrat yang diperoleh
N      = Jumlah semua dalam tabel   (Arikunto, 2002).
       Adapun hipotesis hubungan terdiri dari :
Ho : Tidak terdapat hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan tingkat kematian ibu postpartum.
Ha : Terdapat hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan tingkat kematian ibu postpartum.
       Kriteria penerimaan hipotesis :
       Bila nilai p ≤ 0,05 berarti Ha diterima (ada hubungan).
       Bila nilai p > 0,05 berarti Ho ditolak ( tidak ada hubungan).
3.9. Etika Penelitian
       1.Anonymity
            Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data.
2.Confidentiality
            Kerahasiaan informasi dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan disajikan sebagai hasil.
3.10 Keterbatasan Penelitian
            Seperti yang kita ketahui begitu banyak faktor yang menyebabkan kematian pada ibu postpartum, tidak hanya perdarahan tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti : usia, status gizi, penyakit kronis pada ibu.Dalam penelitian ini peneliti hanya meneliti dari faktor perdarahan yang lebih spesifik pada perdarahan akibat ruptur uteri.Keterbatasan dari penelitian ini adalah peneliti tidak meneliti semua faktor predisposisi penyebab kematian pada ibu postpartum, hal ini disebabkan karena terbatasnya waktu, dana dan tenaga dari peneliti.
      











BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian di RSUD UNDATA mulai dari tanggal 19 Desember 2012 sampai dengan 28 Desember 2012. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu rekam medis dan didapatkan data pada tahun 2010 sampai dengan 2012 sebanyak 34 ibu yang bersalin di RSUD Undata  pada saat itu.

Tabel IV.1 Distribusi sampel yang mengalami perdarahan akibat ruptur uteri
                                                                           n                                prosentase 
Perdarahan postpartum                                  6                                       17,6 %
Tidak perdarahan postpartum                      28                                      82,4 %
Total                                                                 34                                       100 %
Dari 34 data :
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dikategorikan perdarahan postpartum bila jumlah perdarahan >500 ml. Dari 34 data, terdapat 17,6% mengalami perdarahan postpartum, 82,4% tidak mengalami perdarahan. Hasil penelitian dari 34 ibu bersalin di RSUD Undata didapatkan 11 ibu dengan  ruptur uteri, 45,5%  meninggal karena perdarahan postpartum  dan 54,5% tidak meninggal. Sedangkan ibu bersalin yang tidak mengalami ruptur uteri ada 23 ibu dengan 4,3% meninggal akibat perdarahan postpartum dan 95,7% tidak meninggal.

B. Hasil Uji Penelitian

Untuk mengetahui hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian ibu digunakan uji Fisherman (Exact test). Hasil dari uji Fisherman dapat dilihat dalam tabel  berikut ini :
Tabel IV.2 Hasil Uji Fisherman antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian ibu
Meninggal karena perdarahan postpartum
                                  Ya                             tidak                            X2
Ruptur uteri                                  5                                  6   
Tidak ruptur uteri                        1                                  22                             8,652
                                                                                                                           p (0,008)
Total                                               6                                  28

Dari: 34 data
Hasil uji Fisherman (Exact test)dari out put data SPSS 15.0 sesuai tabel di atas, nilai X2 = 8,652; p = 0,008. Hipotesis pada penelitian ini adalah ada hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian ibu. Untuk menguji hipotesis apakah terdapat hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian ibu dengan menggunakan p value statistik uji Fisherman p value < 0,05, maka ada hubungan antara kedua variabel. Dari tabel IV.2 p value 0,008 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian ibu.





















BAB V

PEMBAHASAN


A. Deskripsi Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri di RSUD Undata pada tanggal 19 Desember 2012 sampai dengan 28 Desember 2012 didapatkan 34 data rekam medik. Pada penelitian ini, didapatkan ibu mengalami perdarahan postpartum lebih dari 500 cc. Dari 34 responden didapatkan 11 ibu dengan ruptur uteri, 45,5% meninggal karena mengalami perdarahan postpartum lebih dari 500 cc dan 54,5% tidak meninggal karena tidak mengalami perdarahan postpartum. Sedangkan 23 ibu yang tidakmengalami ruptur uteri, 4,3% meninggal karena mengalami perdarahan postpartum lebih dari 500 cc dan 95,7% tidak meninggal karena tidak mengalami perdarahan postpartum. Perdarahan postpartum tersebut disebabkan karena adanya cedera pada operasi caesarean setion sehingga terjadi ruptur uteri yang menyebabkan perdarahan (Wiknjosastro,2002).

B. Hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian pada ibu

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa p 0,008 < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian ibu. Setiap ibu postpartum memiliki risiko untuk terjadi perdarahan postpartum. Salah satu penyebab perdarahan postpartum adalah karena ruptur uteri, yaitu dapat terjadi akibat cedera atau anomali yang sudah ada, sebelumnya, atau anomali yang sudah ada sebelumnya, atau dapat berkaitan dengan trauma, atau menjadi penyulit persalinan pada uterus yang sebelumnya tidak memiliki parut (Anderson, 1994).
           






BAB VI

PENUTUP


A. Simpulan

Hasil penelitian untuk mengetahui hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian ibu, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Perdarahan postpartum dapat disebabkan oleh karena ruptur uteri.
2. Dikatakan perdarahan postpartum apabila perdarahannya lebih dari 500 cc.
3. Dari 34 responden didapatkan 11 ibu dengan ruptur uteri, 45,5% meninggal karena mengalami perdarahan postpartum lebih dari 500 cc dan 54,5% tidak meninggal karena tidak mengalami perdarahan postpartum.
4. Terdapat hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian pada ibu.

B. Saran

1. Rekomendasi bagi peneliti berikutnya untuk mengambil sampel yang lebih besar.















Daftar Pustaka

1. Anderson, S. 1994. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Jakarta: EGC
2. Departemen Kesehatan RI. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
3. Dinas kesehatan Kabupaten Wonogiri. 2010. Data Kesehatan Kabupaten
Wonogiri 2009. Wonogiri: Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri.
4. Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. 2007. Profil Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah 2006. Semarang: Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi
Jawa Tengah.
5. Hidayat, A. 2009. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data.
Jakarta: Salemba Medika.
6. JHPIEGO, POGI, JNPKR. 2007. Asuhan Persalinan Normal. Asuhan
Essential. Edisi 3. Jakarta: JHPIEGO, POGI, JNPKR.
7. Kenneth,I. 2009. Obstetri William: Panduan ringkas, Edisi ke-21. Jakarta: EGC.
8. Manuaba, I.B.G. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
Ginekologi dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC
9. Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
10. Riduwan, Drs., M.B.A. 2007. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung:
Alfabeta.
11. Saifuddin AB, dkk. 2002. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal
dan neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
12. Wiknjosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP